Selamat Datang di Dokumen Pintar . semoga dari beberapa tulisan yang ada di blog ini bisa berguna dan bermaaf bagi teman-teman semua,

Trimkasih telah telah mengunjungi dukumen pintar ,apabila ada kritik dan saran kirim ke email pamangsahanang@yahoo.com Trimakasih

SEX BEBAS

SEX BEBAS

  1. PENDAHULUAN

Manusia adalah salah satu makhluk yang dalam meneruskan hidup jenisnya memelukan pasangan untuk dapat melakukan regenerasi. Dalam proses regenerasi ini sangat dipengaruhi oleh perilaku keduanya. Sebagai manusia yang mempunyai berbagai kelebihan dibanding makhluk lain, yaitu karunia akal dan hati. Maka manusia dalam proses regenerasi tidaklah sama seperti hewan. Tetapi manusia mempunyai berbagai aturan kehidupan yang telah diajarkan oleh pembawa pesan dari sang Pencipta, atau berbagai norma sebagai kesepakatan bersama dengan manusia lain. Aturan atau norma ini dibuat dengan pemikiran dan penggunaan hati untuk menilainya sebagai pedoman hidup untuk menjadi manusia yang baik.

Hubungan yang terjalin antara jenis satu dengan lainnya ini adalah kekuatan utama agar generasi manusia tidak punah. Proses ini dalam kehidupan dewasa ini sudah mulai tercampuri berbagai kebudayaan lain yang berbeda dengan kebudayaan masyarakat manusia di belahan bumi timur, Negara kita termasuk di dalamnya.

Budaya kita yang “ewuh pekewuh”(punya rasa malu) mulai tergusur budaya “my bussines is mine”(ini urusanku) sehingga rasa malu dan berbagai norma lain di abaikan karena anggapan bahwa urusannya adalah urusannya sendiri bukan orang lain. Dalam pergaulan remaja pun demikian, karena remaja merupakan bagian terbesar yang terkena imbas dari budaya ini. Dalam hal jalinan hubungan dengan lawan jenis pun demikian sehingga pergaulan bebas tanpa adanya norma dan aturan.

Dalam uraian makalah ini akan menyinggung sedikit masalah pergaulan bebas antar remaja yang menjurus pada penyalahgunaan hasrat untuk regenerasi menjadi hasrat untuk pelampiasan nafsu diri semata.

  1. PEMBAHASAN

ONTOLOGI:

Dewasa ini pergaulan remaja, baik remaja sekolah maupun remaja kuliah, telah mengalami suatu tahapan yang berbeda dengan adat budaya dan agama yang menjadi sandaran norma dan aturan dalam hubungan interaksi antar manusia. Dalam pergaulan yang semakin bebas ini memunculkan berbagai bentuk kebiasaan lain. Dari pola pikir yang materialistic dan mencari kenikmatan instant walau sesaat telah menjadi sisi kehidupan tersendiri.

Dari kebebasan pergaulan meskipun ada segi positifnya yaitu kebebasan berfikir dan berkreasi dengan kerja sama antar lawan jenis sehingga menghasilkan kreasi solid karena kedekatannya, mempunyai sisi lain dengan lahirnya berbagai gejala sosial diantarannya terjadi sex pra-nikah. Sex bebas yang merebak di kalangan remaja adalah fenomena dimana aturan dan norma kehidupan yang telah di ajarkan agama dan aturan yang menjadi kesepakatan bersama antar manusia telah terabaikan, tergusur oleh pemikiran yang serba untuk kesenangan.

Perilaku sex bebas ini selain telah mengabaikan norma, juga telah mendorong terjadinya pegeseran fungsi utama sex bagi manusia. Dari tujuan utama sebagai sarana regenerasi telah beralih menjadi sarana pemuasan nafsu semata. Naluri sex merupakan sumber tenaga manusia untuk terus melestaikan spesiesnya dimana dalam pertumbuhannya remaja hingga dewasa dorongan sex ini makin kuat. Jika tanpa ada pengatur atau pengontrol oleh norma agama, sosial masyarakat dan pendidikan sex akan terjadi dominasi nafsu dalam diri.

Pergaulan bebas antar lawan jenis mendorong terjadinya hamil pra-nikah, lebih parah jika setelah hamil laki-laki ini tidak bertanggung jawab dengan meninggalkannya, gadis yang sudah tidak ‘gadis’ lagi ini untuk menghindari rasa malu terhadap orang tua, teman dan masyarakat, atau karena suruhan dari teman laki-lakinya yang tidak mau menikahinya cenderung mengambil jalan pintas dengan menggugurkan kandungannya. Inilah fenomena social remaja yang makin marak dalam kehidupan manusia dimana praktek aborsi sebagai mediator alternative bagi para pezina dalam mencari jalan pintas menjadi solusi terakhir.

EPISTEMOLOGI:

Kurangnya pemahaman individu akan ajaran agamanya secara benar dan mendalam, terlupakannya intisari adat budaya luhur bangsa sebagai katalisator dalam pergaulan akibat pengaruh globalisasi merupakan indikasi terjadinya banyak permasalahan pada generasi muda. Sex pra-nikah telah menjadi mode pergaulan negatif yang harus ditanggapi serius semua pihak dengan pengupayaan perhatian yang lebih. Karena dari hal ini memicu timbulnya hamil sebelum nikah akibat sex bebas dalam pergaulan yang mana minimnya pendidikan pemahaman agama, kurangnya perhatian orangtua, cueknya masyarakat akan situasi linkungan dan taraf pendidikan sex bagi remaja yang belum tertata secara benar yang kebanyakkan diperoleh dari teman sebaya lewat obrolan-obrolan cabul dan jorok atau lewat media-media massa yang menimbulkan anggapan yang salah atau emosi negative.

Masa remaja dalam perkembangannya hingga timbul rasa tertarik pada lawan jenis merupakan awal masa bercinta. Pertumbuhan biologis serta perkembangan psikologis dan pergaulan makin menumbuhkembangkan nafsu seksual awal, meningkat pada taraf rasa senang dan tertarik terhadap lawan jenis, secara perlahan menuju taraf kematangan, ditingkatkan dengan pendekatan. Dalam tahap pacaran ini peran norma agama dan adat budaya sebagai pengontrol serta pemberi batasan antar lawan jenis sangat berpengaruh agar tidak terjadi pergaulan bebas yang menjurus pada sex bebas, akibat dari naluri sex menggebu yang tak mudah dikendalikan dan agar proses pacaran berjalan lancar dengan penyesuaian dan perkenalan karakter masing-masing sehingga mencapai kesuksesan menuju jenjang pernikahan yang mana kedua pasangan telah siap dengan tidak didahului adanya kehamilan terlebih dahulu.

Makin maraknya hamil pra-nikah ini tak luput dari kurangnya peran sektor pendidik dalam memberikan pengajaran, pengertian dan pemahaman akan pendidikan sex yang sehat untuk menghasilkan manusia-manusia yang dewasa, betul-betul matang, dapat menggunakan seksualitasnya dengan bertanggung jawab demi kebahagiaan dirinya sendiri dan lingkungan atau masyarakat, yang mana peran pendidikan ini sangat perlu.

Efek lain dari maraknya sex bebas adalah makin merebaknya penyakit kelamin, dari yang ringan hingga HIV-AIDS banyak menjangkiti kehidupan generasi muda sekarang

Perlunya pendidikan sex bagi remaja agar remaja tidak terjebak pergaulan bebas yang mendorong pada sex bebas, terutama pendidikan sex yang efektif dari orang tua dalam keluarga. Sedang sekolah menekankan ajaran kejujuran, tanggung jawab, pengendalian diri dan kewaspadaan.

AKSIOLOGI:

Pengendalian hawa nafsu sebagai jihad terbesar sepanjang hidup dengan kepatuhan dan keimanan pada ajaran agama. Dengan hal ini dapat mencegah hubungan terlalu jauh sebelum nikah. Bagi yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsu seyogyanya melaksanakan pernikahan dengan dasar kesiapan dari kedua pasangan secara kepribadian, kematangan mental, emosional, sosial dan fisik serta sikap mengedepankan rasa tanggung jawab. Dan tak lupa syarat pernikahan ini haruslah berdasar perasaan saling cinta-mencintai dan harga-menghargai.

Kiat bagi remaja dalam berpacaran yang mana pacaran merupakan budaya asing hendaknya diisi dengan jalinan hubungan dengan pasangan dengan dasar cinta, cinta yang tak harus belepotan syahwat dan birahi. Bahkan ketika cinta itu tumbuh semakin dewasa, syahwat dan birahi tidak lagi menjadi tujuan yang memiliki arti. Dalam bentuknya yang dewasa itu, cinta lebih kentara dengan wujud kepasrahan, keikhlasan, dan peneguhan eksistensi.

“Aku mencintaimu bukan karena ingin mendekap dan memilikimu, tapi aku mencintaimu karena aku mencintaiNya”.

Inilah motivasi untuk merubah pola pikir generasi muda yang hanya memburu nafsu kesenangan sesaat, menjadi sebuah ide hidup yang hangat menemani hari dalam naungan cinta suci menuju Kebenaran sejati. Inilah tonggak manusia menjadi umat yang paling tinggi derajatnya di banding makhluk lain.

  1. PENUTUP

Pendewasaan pemikiran remaja dengan beranjak dalam memahami cinta dari sekadar remah-remah kehidupan kepada cinta sebagai hamparan sawah ladang, yang tak pernah menuntut hadir dimeja makan, namun karenanya kita semua bisa dengan lahap bersantap malam. Cinta suci inilah dasar pergaulan lawan jenis yang sesuai dengan fitrah manusia agar tidak menimbulkan gejala sosial yang negatif. Perkembangan regenerasi yang dapat memperoleh hasil yang lebih baik. Bukan karena factor kecelakaan atau regenerasi yang tidak di inginkan, tetapi merupakan tujuan suci untuk menjaga eksistensi kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Demikianlah uraian makalah yang dapat pemakalah sampaikan. Semoga dapat menjadikan manfaat dan tambahan pengetahuan.

PERKEMBANGAN PSIKOLOGI KLINIS DI INDONESIA

PERKEMBANGAN PSIKOLOGI KLINIS

DI INDONESIA

Bab I

Pendahuluan

Psikologi Klinis adalah salah satu bidang psikologi terapan selain Psikologi Pendidikan, Psikologi Industri, dan lain-lain. Psikologi Klinis menggunakan konsep-konsep Psikologi Abnormal, Psikologi Perkembangan, Psikopatologi dan Psikologi Kepribadian, serta prinsip-prinsip dalam assesment dan intervensi, untuk dapat memahami maslah-masalah psikologis, gangguan penyesuaian diri dan tingkah laku anormal.

Dilihat dari cakupannya, psikologi klinis dapat diartikan secara sempit atau luas. Secara sempit, psikologi klinis tugasnya ialah mempelajari orang-orang abnormal atau subnormal. Tugas utama psikologi klinis adalah menggunakan tes yang merupakan bagian integral suatu pemeriksaan klinis yang biasanya dilakukan di rumah sakit. Dalam cakupan yang lebih luas, psikologi klinis adalah bidang psikologi yang membahas dan mempelajari kesulitan-kesulitan serta rintangan emosional pada manusia, tidak memandang ia abnormal atau subnormal. Psikologi Klinis menopang gejala-gejala yang dapat mengurangi kemungkinan manusia untuk bahagia. Kebahagiaan erat hubungannya dengan kehidupan emosional-sensitif dan harus dibedakan dengan kepuasan yang lebih berhubungan dengan segi-segi rasional dan intelektual (Yap Kie Hien,1968).

Disini, berdasarkan cakupan dan beberapa pengertian dari para ahli psikologi, akan dibicarakan tentang perkembangan psikologi klinis dari awal dan akhirnya sampai di Indonesia. Dengan beberapa referensi baik buku maupun dari rujukan lain mengenai ilmu psikologi klinis yang merupakan cabang dari ilmu psikologi, akan merumuskan dan membahas masalah perkembangan psikologi klinis ini.

Bab II

Pembahasan

Psikologi Klinis merupakan salah satu jenis psikologi terapan yang sampai sekarang sering dipertanyakan arti, kedudukan, dan peranannya jika dibandingkan dengan psikiatri. Dalam hal Psikologi Klinis, bahkan psikologi saja masih tidak banyak yang mengetahuinya. Bahkan sejak digunakan, pada tahun 1530-an, telah terlihat jelas adanya ketidakpastian mengenai materi apa yang sebenarnya dibahas dalam psikologi ini. Philip Melacthon yang pada tahun tersebut merencanakan adanya psikologi, menyatakan bahwa substansi atau materi psikologi adalah gabungan dari faal tubuh, malaikat, setan, dan Tuhan yang muncul dalam gejala perilaku. Dapat dibayangkan rumitnya, apa yang dihadapi psikologi klinis kalau psikologi dianggap ilmu tentang materi tersebut. Kemudian, para fungsionalis menganggap bahwa materi psikologi adalah mental atau fungsi psikis, seperti emosi dan daya pikir.

Pada tahun 1920-an muncul Watson yang menghendaki adanya materi psikologi berdasarkan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan yang objektif, dapat diukur dan diamati, ialah perilaku. Perkembangan psikologi berikutnya manjadi lebih rumit lagi, karena sangat banyak mengikuti perkembangan filsafat, terutama tentang hakikat manusia dan metodologi. Jadi, psikologi klinis sesuai dengan perkembangan materi psikologi pada umumnya, juga menghadapi masalah yang sama, ialah keruwetan mengenai apa yang sebenarnya dibaca psikologi : jiwa, ruh, mental, perilaku, pengalaman, penghayatan, dan lain-lain.

Dilihat dari sejarahnya, Psikoogi Klinis kemungkinan besar merupakan wacana psikologi yang paling tua dan sekaligus merupakan akar wacana psikologi pada umumnya. Akan tetapi, dilihat dari kedudukan dan fungsi dalam hubungannya dengan psikologi sebagai cabang ilmu yang mandiri Psikologi Klinis bukanlah pilar utama ilmu psikologi. Dengan demikian tidak ada kaidah dasar Psikologi Klinis yang mendukung dan menjadi tumpuan kaidah utama psikologi umumnya. Yang ada malahan sebaliknya, wacana psikologi klinis justru berkembang berdasarkan penggunaan kaidah-kaidah psikologi.

Adapun yang termasuk pilar psikologi adalah sub-sub disiplin ilmu psikologi, yaitu Psikologi Umum, Psikologi Perkembangan, Psikologi Sosial, dan Study Kepribadian ( yang lebih dikenal dengan nama Psikologi Keporibadian). Dalam pemahaman dasarnya, Psikololgi Klinis m,erupakan ilmu yang menerapkan atau mengaplikasikan Psikologi Abnormal sebagai dasarnya. Sementara itu, Psikologi Abnormal merupakan “kelanjutan” dari Study atau Psikologi Kepribadian. Namun, sebagaimana ilmu psikologi pada umumnya, yang merupakan study tentang perilaku dan penghayatan atas pengalaman seseorang. Psikologi Klinis juga merupakan study tentang perilaku seseorang. Psikologi Klinis juga merupakan study tentang perilaku seseorang individu secara khas (particular individual).

Psikologi Klinis lahir berdasarkan pendapat Hippocrates, bahwa setiap perilaku, termasuk gejala sakit, bersumber dari otak. Selanjutnya, apa yang dimaksudkan dengan “otak” itu diperluas menjadi persyaratan, dan khusus untuk perilaku, pengertian “otak” ini disubstitrusikan dengan “psike” atau “jiwa”, “mental” atau “mind”.

Pada awalnya, Psikologi Klinis merupakan bidang kajian dan terapan kecil yang juga menyangkut bagian kecil dari psikologi secara menyeluruh. Asamen Klinis, yang sebelumnya lebih dikenal dengan diagnostika atau khusus untuk masalah-masalah psikologis disebut psikodiagnostika, merupakan upaya untuk memahami gejala-gejala yang menyangkut masalah yang dialami anak-anak. Asament Klinis ini merupakan aktiitas profesional utama yang dilakukan para praktikus Psikologi Klinis, yang saat itu kebanyakanterbatas dalam ketrampilannya. Sejumlah mioritas klinikus yang melakukan psikoterapi, melakukan di bawah supervisi psikiatris. Praktik pribadi umumnya jarang, yang dalam kegiatannyaterutama lebih banyak merupakan konsultasi psikologis daripada Psikologi Klinis yang sebenarnya. Adapun yang merupakan konsentrasi tetap, lebih banyak dikenal berperan sebagai mental tester oleh atau bagi profesi lain. Maksudnya adalah bahwa Psikolog Klinis menerima permintaan profesi lain, seperti psikiater, Psikolog Industri dan Organiasai, guru, dan profesi lain untuk melakukan tes mental terhadap klien atau pasien mereka.

Selang waktu antara tahun 1896 dan 1946 merupakan tahun-tahun penting dalam Psikologi Klinis. Pada kurun waktu tersebut, praktik maupun wacana tentang psikologi klinis mendominasi wacana psikologi pada umumnya. Penggabungan istilah “psikologi” yang terkait dengan istilah “klinik” yang artinya tempat orang berobat, pertama kali dilakukan oleh L.Witmer (Arieti,1959 & Phares, 1993). Dari penggabungan ini dapat dilihat bahwa bidang terapan ini berpijak pada dua disiplin ilmu yang berbeda yakni psikologi akademik dan kedokteran. Psikologi Klinis adalah gabungan dari Psikologi Medis (yang merupakan perkembangan dari psikiatri), dan “University Clinicss” yang didirikan oleh L. Witmer yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari mental tests dan psikologi eksperimental, atau sering juga disebut psikologi “akademik”, psikologi sebagai ilmu.

Lightner Witmer pada tahun 1896 mendirikan Klinik Psikologis atau “Psychologocal Clinic” yang pertama di Universitas Pensylvania. Oleh karena itu, tahun 1896 dianggap sebagai tahun penemuan psikologi klinis sebagai profesi. Pada klinik ini tugas psikolog ialah memeriksa anak-anak yang mengalami kesulitan menerima pelajaran. Klinik psikologi pada waktu itu tidak bergerak seagai adan pel;ayanan bagi orang sakit atau orang-orang yang mengalami gangguan penyesuaian diri. Di Universitas lain, pendirian klinik psikologis seperti itu kemusian bermunculan, antara lain klinik psikologi yang dibangun oleh Carl E. Seashore di Universitas IOWA. Pada tahun 1914 telah tercatat 19 klinik psikologi yang dibangun, dan jumlahnya meningkat tajam pada tahun 1935 hingga menjadi 87 buah klinik (Louttit, 1939).

Pada tahun 1946, barulah psikoterapi menjadi aktivitas profesional yang tetap bagi psikolog klinis. Sejak 1970-an, kebanyakan psikolog klinis melakukan kegiatan psikoterapi, sementara kegiatan asesmen atau diagnosis hanya menyita 10% saja dari keseluruhan waktu praktik yang digunakan.

Dalam kegiatan praktisnya, psikolog klinis lebih sedikit mirip psikolog pada umumnya dari pada pendeta atau manager persoalia atau dokter. Yang sama diantara mereka adalah evaluasi individu pada waktu dan pada perangkat lingkungan tertentu. Tugas utamanya adalah memahami individu secara lebih mendalam sebagai landasan untuk penanganan berikut keperluan tertentu yang telah dirancang.

Oleh karena psikologi klinis tidak mempunyai pendidikan dasar kedokteran, maka hak seorang psikolog klinis untuk memberikan psikoterapi sekiar tahun 1950-1980 seringkali dipermasalahkan. Istilah psikoterapi hanya dapat dilakukan oleh psikiaer. Ada pendidikan fomal yang biasanya dilakukan di universitas untuk tujuan memperoleh gelar, dan ada pendidikanpreaktik yang dilakukan dalam nstitusi untuk menujang ketrampilan-ketrampilan khusus yang terkait dengan psikologi dan asrsmen psikologik. Untuk pendidikan praktik, yang berperan penting ialah organisasi profesi.

Yap Kie Hien (1968) mengemukakan beberapa istilah lain untuk “Psikologi klinis.” Istilah-istilah ini tidak sepenuhnya memeliki arti yang sama karena tiap istilahmewakili aliran berbeda-beda. Istilah-istilah tersebut adalah psikopatologi, psikologi abnormal, psikologi medis, pato psikologi dan psikologi mental health.

Seperti yang telah dikemukakan bahwa psikologi klinis mencakup nasesmen, intervensi dan penelitian. Di luar negri kemantapan psikologi klinis sebagai suatu profesi dalam praktik psikologi klinis didukung oleh organisasi profesi psikologi klinis, diterbitkan jurnal yang memuat penelitian-penelitian psikologi klinis, didirikannya program study untuk psikologi klinis yang didukung organisasi profesi dan lain-lain.

Di Indonesia sendiri pendidikan psikologi dipelopri oleh Slamet Iman Santoso. Pendidikan ini diharapkan dapat membentuk suatu lembaga yang mampu menempatkan the right man in the right place, karena pada masa itu banyak kejadian di mana orang-orang yang kurang kompeten menduduki posisi penting sehingga membuat keputusan yang salah

Awal dari pendiodikan psikologi dilakukan di lembaga psikoteknik yang dipimpin oleh Teutelink yang kemudian menjadi program stiudy psikologi yang pernah bernaung di bawah brbagai fakultas di lingkungan Universitas Indonesia. Di Jakarta, mata kuliah filsafat dinaungi fakultas sastra; mata kulah statistik oleh fakultas ekonomi, dan mata kuliah faat oleh fakultas kedokteran.

Program studi psikologi kemudian pada tahun 1956-1960 menjadi jurusan psikologi pada fakultas kedokteran UI. Pada tahun 1960 psikologi menjadi fakultas yang berdiri sendiri di UI (Somadikarta et. Al. 2000). Kurikulum dan pelaksanaan program study psikologi dimulai sebelum tahun 1960, dibina oleh para pakar yang mendapat pendidikan Doktor (S3) dan Doploma dari negeri Belanda dan Jerman. Liepokliem mendirikan bagian klinis dan psikoterapi bertempat di barak I RSUP (RSCM). Yap Kie Hien mendirikan bagian psikologi eksperimen di salemba. Myra Sidharta mendirikan klinik bimbingan anak. Koestoer dan Moelyono memimpin agian psikologi kejuruan dan perusahaan (sekarang psikologi industri dan organisasi) kemudian diperkuat oleh A.S.Munandar. bagian posikologi sosial dirintis oleh Marat kemudian dipimpin oleh Z.Joesoef. setelah kepergian Liepokliem ke Australia, bagian psikologi klinis dan psikoterapi berganti nama menjadi bagian psikologi klinis dan konseling dipimpin oleh Yap Kie Hien (1960-1969). Namun dengan adanya pengertian yang luas tentang psikologi klinis, maka nama bagian psikologi klinis-konseling berganti lagi menjadi bagian psikologi klinis.

Sejak tahun 1992, pendidikan akademik dan pendidikan profesi psikolog dipisahkan untuk memungkinkan sarjana psikologi meneruskan ke bidang lain yang mereka minati. Sebelumnya, sarjana psikologi adalah juga psikolog karena pendidikan praktik digabungkan pendidikan akademik. Sejak tahun 20200, suatu forum menyepakati bahwa prasyarat bagi pendidikan profesi psikolog – agar dapat melakukan praktik psikologi – adalah tingkat S2, namun hal itu baru diberlakukan di UI saja. Forum ini terdiri dari dekan-dekan Fakultas Psikologi – yang kini mencapai 20 Fakultas Psikologi negeri dan swasta – dan organisasi Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi).

Sejak 1994, psikolog yang berpraktik – artinya memberikan konsultasi psikologi, melakukan asesmen atau psikodiagnostik, dan melakukan konseling dan terapi – diwajibkan memiliki Izin Praktik Psikolog. Izin ini diperoleh setelah mereka memperoleh rekomendasi dari oeganisasi profesi – dulu Ikatan Sarjana Psikologi, sekarang Himpsi. Izin diterbitkan oleh Departemen Tenaga Kerja (1994-2000) dan rencananya akan dikeluarkan oleh Himpsi sendiri.

Di Indonesia pendidikan profesi spesialis psikologi klinis secara formal belum diadakan, padahal sebenarnya sudah cukup banyak pakar yang berpengalaman di berbagai bidang psikologi klinis seperti terapi tingkahlaku, family therapy, counseling. Upaya untuk membuka jalur pendidikan spesialistik-profesional semestinya didukung oleh organisasi profesi (ISPSI/HIMPSI) karena pihak pemerintah – yakni Direktorat Pendidikan Tinggi Dep. Pendidikan Naisonal – lebih mengutamakan pendidikan akademik S1, S2, dan S3.

Bab III

Kesimpulan

Dari perkembangan Psikologi di dunia dan kemudian pendapat-pendapat ahli tentang psikologi,dan kemudian tentang perkembangan Psikologi Klinis di Indonesia. Dapat diambil garis besar tentang pengertian Psikologi Klinis. Psikologi Klinis adalah salah satu bidang psikologi terapan selain Psikologi Pendidikan, Psikologi Industri, dan lain-lain. Psikologi Klinis menggunakan konsep-konsep psikologi abnormal, psikologi perkembangan, psikopatologi dan psikologi kepribadian, serta prinsip-prinsip dalam assesment dan intervensi, untuk dapat memahami masalah-masalah psikologis, gangguan penyesuaian diri dan tingkah laku anormal.

Kemudian tentang perkembangan psikologi klinis di Indonesia sendiri disimpulkan bahwa perkembangan Psikologi Klinis di Indonesia masih dalam tahap pengembangan dan dapat juga dikatakan masih terpuruk dan belum maju. Hal ini dapat diketahui bahwa di Indonesia pendidikan profesi spesialis psikologi klinis secara formal belum diadakan, padahal sebenarnya sudah cukup banyak pakar yang berpengalaman di berbagai bidang psikologi klinis seperti terapi tingkahlaku, family therapy, counseling.

Hal-hal yang perlu digaris bawahi bahwa jika kita ingin mengembangkan Psikologi Klinis haruslah Upaya untuk membuka jalur pendidikan spesialistik-profesional semestinya didukung oleh organisasi profesi (ISPSI/HIMPSI) karena pihak pemerintah – yakni Direktorat Pendidikan Tinggi Dep. Pendidikan Naisonal – lebih mengutamakan pendidikan akademik S1, S2, dan S3. Dan dukungan tersebut haruslah lebih dapat disosialisasikan untuk dapat menarik minal para sarjana psikolog untuk melanjutkan ke bidang Psikologi klinis.

BAB XI

DAFTAR PUSTAKA

Wiramihardja,Prof.Dr.Sutardjo S.(2004).Psikologi “Pengantar Psikologi Klinis”.Refika aditama : Bandung

Slamet, Suprapti I.S-Sumarmo Markam. (2003). Pengantar Psikologi Klinis. UI Press : Jakarta

Terapi Gangguan Jiwa

Pengaruh Opini Publik terhadap Teori, Diagnosis dan Terapi Gangguan Jiwa *

Abstrak

Teori, diagnosis dan terapi ganguan jiwa (termasuk skizofrenia) ternyata berubah dari masa ke masa. Hal ini sangat dipengaruhi oleh konstelasi sosial, budaya, bahkan politik pada masa yang terkait. Tidak mengherankan jika satu gejala dapat didiagnosis berbeda-beda pada masa yang berbeda dengan konsekuensi perbedaan teknik terapi (dulu harus dimasukkan lembaga perawatan, sekarang bisa berobat jalan), bahkan dengan kemungkinan salah diagnosis dan salah terapi (didagnosis sakit padahal sehat, didiagnosis tidak ada gangguan padahal pembunuh serial). Pengaruh publik opini (awam, termasuk media massa) sangat besar, karena ternyata para ilmuwan (termasuk dokter dan psikolog) sendiri bisa terpengaruh oleh opini publik tersebut. Kerancuan akan makin menjadi-jadi karena perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat akan menyebabkan pergantian norma berlangsung sangat cepat sehingga para ilmuwan lebih mudah terpengaruh dan kehilangan pegangan. Untuk mengatasinya, para ilmuwan (khususnya para psikiater dan psikolog) sendiri harus tetap memegang teguh disiplin ilmu agar bisa selalu menegakkan diagnosis dan memberikan terapi yang paling tepat dan selanjutnya mempengaruhi opini publik (bukan dipengaruhi oleh opini publik)

Pendahuluan

Ketika saya masih mengikuti kuliah "Psikologi Abnormal" dan "Psikoterapi" dan berpraktek di Bagian Kedokteran Jiwa RSCM, Jakarta, di tahun 1965-1967, dan juga dari berbagai literatur yang saya baca sampai pertengahan tahun 1970-an saya selalu diberitahu bahwa Multiple Personality Disorder/MPD (dulu namanya Split Personality dan sekarang ada beberapa literatur yang menyebutnya Dissociative Identity Disorder/DID (McCaghy, Capron & Jamieson, 2002; Gleaves, 1996)) sebagai salah satu bentuk skizofrenia (yang oleh awam sering disebut "gila", "sinting", "edan" atau "sarap"), yang gejalanya antara lain adalah adanya waham (delusi), halusinasi dan flight of ideas. Karena itu cara bicara seorang skizofren tidak mudah dimengerti ("ngaco"), perbuatannya bizarre (tidak karuan), bahkan bisa berbahaya (menyerang orang lain dsb.), sehingga mereka perlu dirawat-inapkan di Rumah Sakit Jiwa (di Jakarta, yang paling dikenal dan selalu diberi konotasi negatip adalah RSJ Grogol). Maka tidak mengherankan jika orang (awam maupun ilmuwan) percaya bahwa penyandang MPD-pun bisa berperilaku bizarre dan berbahaya seperti yang digambarkan dalam film-film "Mr Hyde & Dr Jeckyl", "Psycho" dan sebagainya.

Akan tetapi kenyataan yang ada sekarang tidaklah demikian. Saya sendiri sejak awal 2001 sampai saat artikel ini ditulis, masih menangani satu kasus MPD. Kasus ini tahun lalu (ketika itu masih SMU kelas II) dibawa kepada saya karena kedapatan sedang mengiris-iris lengannya dengan cutter dan menolak untuk dibawa ke psikiater karena tidak mau discanning. Tetapi sekarang (sudah kuliah), remaja putri yang IQ-nya 147 dan sangat pandai menggambar ini, sudah tidak lagi mengirisi lengannya (berhenti setelah 2 kali konsultasi) dan sudah mulai bisa bersosialisasi dengan kawan-kawan chatting (internet)-nya dan sekarang dengan teman-teman kuliahnya (jurusan disain grafis). Di luar itu, kasus ini adalah anak yang selalu nampak normal dan selalu berprestasi tinggi walaupun jarang ngobrol dengan orangtuanya dan cenderung menyendiri dengan komputernya. Psikoterapi masih terus dilanjutkan dengan sasaran untuk lebih mengenali 6-10 kepribadian (sulit diidentifikasi karena hilang-timbul) dalam diri kasus dan mengupayakan rekonsiliasi di antara mereka (untuk sementara mereka belum mau berintegrasi). Dengan perkataan lain, sosok MPD seperti yang digambarkan dalam film-film (dan juga telenovela dan sinetron), sama sekali tidak nampak pada diri kasus.

Sosok MPD yang jauh berbeda dari yang digambarkan oleh media massa, ternyata tidak hanya terdapat pada kasus saya tsb. Ketika saya menterjemahkan buku Sybil saya mendapati bahwa dokter Wilbur, psikiater yang menangani pasien dengan 16 kepribadian ini, tidak mendiagnosis Sybil dengan skizofrenia, melainkan sebagai dissociative personality (Schreiber, 1974: 324). Demikian pula Karl May, penulis buku-buku petualangan yang sangat terkenal (petualangan Old Shutterhand dengan "bedil perak"-nya di benua Amerika, di sudut-sudut Balkan dan di Aceh), adalah seorang MPD yang buta sejak kecil dan tidak pernah keluar dari kampung halamannya. Juga E.T. Aul yang dalam otobiografinya bisa menyatakan bahwa para dokternya yang semuanya sangat professional itu tahu bahwa ia mengalami gejala MPD, tetapi tetap berkeras mendiagnosisnya sebagai skizofrenia, karena pada waktu itu (tahun 1940-an) MPD tidak ada dalam ketegori diagnosis psikiatri, sehingga bagaimana pun juga Aul tidak dapat didiagnosis sebagai MPD (Aul, 1996: 65). Jadi, keempat sosok MPD ini (termasuk kasus saya sendiri) jelas bukan skizofrenia, apalagi yang berberilaku agresif dan destruktif seperti yang digambarkan oleh media massa. Mereka justru orang-orang yang sangat pandai, kreatif dan banyak membaca (pada umumnya MPD memang berciri seperti itu), yang kebetulan pernah mengalami trauma mental di masa kecilnya (sebagai salah satu indikator dan prediktor MPD, lihat: Glaves, 1996)

Teori labelling

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai orangtua yang menyebut anaknya. "Nakal". Tidak jarang sebutan itu dilontarkan demikian saja, tanpa alasan yang jelas (kadang-kadang hanya untuk menunjukkan bahwa orangtua tidak memanjakan anak). Akibatnya adalah bahwa anak yang awalnya tidak bermasalah bisa sungguh-sungguh menjadi masalah karena selalu diberi stigma nakal. Dalam psikologi, penyesuaian diri pada stigma ini didasari oleh proses modeling, reinforcement atau conditoning yang analog dengan proses conditioning pada anjing Pavlov (lihat: Sarwono, 1998), sedangkan psikolog Thomas J. Scheff menamakannya teori labelling (dalam McCaghy, Capron & Jamieson, 2002: 348-349).

Teori labelling ini pada prinsipnya menyatakan dua hal. Pertama, orang berperilaku normal atau tidak normal, menyimpang atau tidak menyimpang, tergantung pada bagaimana orang-orang lain (orangtua, keluarga, masyarakat) menilainya. Penilaian itu ditentukan oleh kategorisasi yang sudah melekat pada pemikiran orang lain tersebut. Segala sesuatu yang dianggap tidak termasuk ke dalam kategori-kategori yang sudah dianggap baku oleh masyarakat (dinamakan: residual) otomatis akan dianggap menyimpang. Karena itulah orang bisa dianggap sakit jiwa hanya karena berbaju atau bertindak "aneh" pada suatu tempat/masa tertentu. Kedua, penilaian itu berubah dari waktu ke waktu, sehingga orang yang hari ini dinyatakan sakit bisa dinyatakan sehat (dengan gejala yang sama) beberapa tahun kemudian, atau sebaliknya.

Tetapi yang menjadi masalah adalah bahwa yang terkena pengaruh labelling ini bukan hanya awam (khususnya pasien atau subyek), melainkan juga ilmuwan (termasuk para dokter dan psikolog sendiri). Anggota Kongres AS yang terkemuka, Barry Goldwater, misalnya, pernah didiagnosis sebagai "skizofrenia paranoid"; presiden AS dan pemenang hadiah Nobel Woodrow Wilson, pernah didiagnosis sebagai "sangat mirip psikosis"; dan semua politisi Uni Sovyet yang menjalani pemeriksaan psikiatrik didiagnosis sebagai "kepribadian psikopat", "cenderung paranoid" atau "skizofrenia" dengan simptom-simptom: "idea reformis, perilaku bizarre, emosi datar, emosi tak adekwat, tidak kritis pada situasi, mau benar sendiri, bereaksi tidak sesuai dengan situasi dan kecenderungan untuk memoralisasi segala sesuatu" (McCaghy, Capron & Jamieson, 2002: 356).

Perubahan teknik terapi

Psikiater Emil Kraepelin pada awal abad ke XX menamakan skizofrenia dengan istilah dementia precox, karena ia menemukan gejala kemunduran (dementia) tidak pada usia lanjut (dementia senilis) seperti biasanya, melainkan pada usia remaja (precox) (Southard, 1915; Sarwono, 1998).

Istilah skizofrenia kemudian digunakan untuk lebih menggambarkan penyakit yang bukan sekedar dementia, melainkan juga terjadi perpecahan kepribadian (schism), yaitu tidak seiringnya lagi pikiran, emosi dan perbuatan penderita. Awalnya penanganan terhadap penyakit ini harus dilakukan di institusi (RSJ), karena jika hanya dirawat dengan berobat jalan, sangat boleh jadi pasien akan membahayakan orang lain atau dirinya sendiri. Akibatnya berbagai insitusi di Amerika Serikat (dan juga di Indonesia) makin penuh sesak dengan pasien rawat-inap, karena pada umumnya mereka harus dirawat untuk jangka waktu yang lama. Namun sejak 1955, terjadi revolusi psikiatri dengan ditemukannya obat-obat yang bisa mengurangi gejala penyakit ini (lithium, antipsikotik, tranquilizers dll.), sehingga jumlah pasien rawat inap di Amerika Serikat menurun drastik (McCaghy, Capron & Jamieson, 2002: 353; Byalin, Jed & Lehman, 1985).

Penyebab lainnya adalah telah dikembangkannya teknik-teknik psikoterapi baru untuk mengurangi gejala-gejala skizofrenia, seperti peer therapy (Stewart, van Houten & van Houten, 1992), pemanfaatan input dari pasien sendiri (Davidson, et al. 1997), teknik reinforcement yang dinamakan priming untuk meningkatkan perilaku yang diharapkan dari pasien-pasien skizofrenia kronis (O'Brien, Azrin & Henson, 1969), dan teknik reinforcement lain untuk mengurangi gejala latah/echolalia (Schreibman, Carr, 1978) dan sebagainya.

Walaupun demikian, perubahan dalam teknik-teknik terapi ini tidak selalu berhasil. Teknik reinforcement untuk mengurangi delusional speech pada penderita skizofrenia kronis rawat inap, misalnya, hanya berhasil pada sesi-sesi terapi (wawancara, diskusi kelompok dsb.), tetapi tidak berpengaruh pada perilaku sehari-hari pasien di institusi (Liberman, et al, 1973). Bahkan ada kalanya dokter salah memperlakukan pasien dengan merawat paksa orang normal[1] atau justru membebaskan pasien yang berbahaya[2] (McCaghy, Capron & Jamieson, 2002: 357).

Catatan kaki

[1] Pada tahun 1962, Leonard Frank membuat risau orangtuanya karena agama baru dan pandangan politiknya yang aneh, termasuk tidak mau mencukur rambut dan jenggot serta tiba-tiba menjadi vegetarian. Leonard dipaksa masuk RSJ, didiagnose sebagai skizofrenia paranoid dan diobati dengan insulin coma dan terapi electroconvulsive dengan akibat ia menderita amnesia. Kemudian ia menjadi aktivis LSM anti perawatan paksa.

[2] Pada tahun 1964, pada usia 15, Edmund Kemper membunuh kedua kakek-neneknya dan dirawat di RSJ dengan diagnosis criminally insane. Pada tahun 1969 ia dinyatakan sembuh dan dilepaskan. Pada tahun 1972 ia minta diklarifikasi catatan kriminalnya yang berarti ia harus menjalani pemeriksaan psikiatrik. Sementara itu ia membunuh lagi dan memutilasi 2 gadis remaja dan 3 hari setelah pembunuhan itu para psikiater pengadilan mendiagnosisnya sebagai tidak berbahaya lagi bagi masyarakat. Setelah itu ia membunuh lagi 2 gadis dan pada tahun 1973 ia membunuh lagi 2 gadis dan ibunya sendiri.

Perubahan paradigma

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah teori yang bagaimana yang seharusnya dipakai? Paradigma mana yang benar?

Pertanyaan ini sangat sulit dijawab, karena pada hakikatnya upaya diagnosis pada pasien-pasien psikiatrik sangat tergantung pada norma dan konstelasi sosial, budaya, bahkan politik yang berlaku pada saat itu, sebagaimana tampak pada contoh-contoh yang sudah disebutkan di atas. Karena itulah dari tahun ke tahun, selalu terjadi berbagai perubahan drastik dalam diagnosis psikiatrik. Pada tahun 1915, misalnya, sebuah review tentang berbagai publikasi tentang psikopatologi yang terbit antara tahun 1913-1914 sudah menunjukkan berbagai kontroversi yang ada ketika itu (dementia precox vs skizofrenia, kategorisasi skizofrenia, normal vs abnormal, teori co-consciousness, etiologi feeble minded dsb.) (Southard, 1915). Demikian pula diagnosis anxiety neurosis pada tahun 1950-an, dinamakan affective disorders pada tahun 1970-an (McCaghy, Capron & Jamieson, 2002: 356) dan kategorisasi utama penyakit-penyakit dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders/DSM IV (yang berlaku sejak 1994 sampai sekarang) berjumlah 16 jenis, yaitu bertambah 10 jenis dari DSM III-R (1987) (McCaghy, Capron & Jamieson, 2002: 338).

Perubahan-perubahan paradigma ini juga tidak terlepas dari temuan-temuan berbagai penelitian yang sangat divergen. Dalam sebuah penelitian, misalnya, skizofrenia dianalogikan dengan perusahaan yang mengalami berbagai konflik organisasi (Sheppard, 1992). Penelitian lain menemukan pengaruh yang besar dari faktor lingkungan keluarga (Fontana, 1966; Rosenthal, 1962), tetapi penelitian yang lebih mutakhir menyatakan bahwa tidak cukup bukti tentang faktor keluarga ini (Guirguis, 1980) dan bahwa faktor genetik lebih besar pengaruhnya ketimbang faktor kultural (Faraone & Tsuang, 1985), bahkan merupakan faktor utama (Clementz & Sweeney, 1990). Penelitian lain lagi menyangkal adanya pengaruh yang besar dari faktor-faktor demografik dan biografik terhadap keberhasilan penyesuaian diri dari pasien-pasien skizofrenia dalam masyarakat (Morguelan, Michael & Allen, 1978). Kontroversi juga terjadi pada penelitian tentang etiologi autisme pada bayi (Early Infantile Autism), yaitu antara overstimulation dan understimulation (Ward, 1970), sementara kriteria autism itu sendiri pun masih dipertanyakan (Rimland, 1972; L'abate, 1972).

Penelitian-penelitian dalam bidang MPD/DID (yang pernah dikategorisasikan ke dalam skizofrenia) juga menampakkan kontroversi. Sebagian psikolog berpendapat bahwa MPD/DID adalah sebuah konstruk sosio-kognitif pada penderita, yaitu bahwa pasien yang bersangkutan hanya meniru atau menyesuaikan diri pada harapan orang lain atau model yang dihadapinya (Spanos, 1994), sementara psikolog lain pada umumnya masih berpendapat bahwa etiologi MPD/DID adalah trauma masa lalu, khususnya masa kanak-kanak. Penerapan paradigma sosio-kognitif pada psikoterapi dianggap berbahaya karena mengabaikan faktor trauma masa lalu terebut (Gleaves,1996)[3]. Penelitian lain tentang MPD/DID adalah bahwa meskipun banyak psikoterapis yang percaya bahwa MPD/DID disebabkan oleh child abuse yang berkaitan dengan ritual-keagamaan, sebuah survai terhadap 2.722 anggota APA (American Psychological Association) yang berpraktek klinis hanya mendapati 803 kasus yang seperti itu (Bottoms, Shaver & Goodman, 1996). Bahkan kontroversi, khususnya ketidak sepahaman para pakar sendiri di bidang MPD/DID ini telah menimbulkan keraguan pada pengadilan-pengadilan di Amerika Serikat tentang kesahihan alibi MPD/DID untuk membebaskan para terdakwa dari tuntutan hukum (Radwin, 1991).

Catatan kaki

[3] Pada kasus MPD yang saya terapi memang ada gejala bahwa subyek/pasien meniru tokoh-tokoh komik yang menjadi hobinya (sosio-kognitif) yaitu dengan menggunakan nama-nama yang mirip dengan nama-nama tokoh komik sebagai nama-nama berbagai kerpibadian dalam dirinya. Namun yang menjadikan awal pertama disosiasi kepribadiannya adalah peristiwa traumatik(diduga sexual abuse) ketika subyek yang introvert ini duduk di SMP kelas III

Diskusi dan kesimpulan

Sebagian peneliti berpendapat bahwa kontroversi tentang skizofrenia (yang sangat boleh jadi berlaku juga bagi gangguan jiwa pada umumnya) disebabkan oleh keterbatasan metodologi penelitian itu sendiri. Misalnya: fokus penelitian masih lebih mengutamakan dampak skizofrenia dari pada etiologinya, penelitian masih lebih banyak dilakukan terhadap pasien-pasien skizofrenia sendiri ketimbang kasus-kasus normal yang berisiko tinggi untuk menderita skizofrenia dan dalam penelitian tentang skizofrenia sendiri kendala timbul karena struktur keluarga bisa berubah-ubah dan menjadi berbeda dari kondisi awal ketika penyakit mulai timbul. Selain itu, penelitian terhadap masa kanak-kanak pasien meamng sangat dibutuhkan, namun terkendala oleh terbatasnya dan bias-nya informasi yang dapat diperoleh karena faktor waktu dan keterbatsan memori (Mednick & McNeil, 1968).

Namun, terlepas dari kendala metodologi itu, harus diakui bahwa skizofrenia adalah penyakit yang mengandung banyak muatan sosial. Karena itu tidak bisa diingkari adanya pengaruh opini publik yang sedang marak pada suatu saat dan tempat tertentu. Jika di Amerika Serikat dan Uni Sovyet, presiden, anggota kongres, pemenang hadiah nobel bisa didiagnosis sebagai penderita gangguan jiwa, di Indonesia pun Bung Karno bisa dinyatakan berindikasi waham kebesaran, Suharto berwaham kekuasaan, Gus Dur menunjukkan gejala flight of ideas atau sleep disorder (karena sering tertidur di sidang kabinet dan MPR) dan Habibie dan Megawati bisa dianggap kurang peka lingkungan. Di sisi lain, semua anggota DPR juga bisa dinyatakan mengidap flight of ideas karena inkonsistensi pemikiran-pemikiran mereka[4], bahkan Gus Dur semasa menjadi presiden pernah menamakan anggota-anggota DPR ini sebagai Taman kanak-kanak (dalam istilah psikologi abnormal: Feeble Minded).

Di era globalisasi ini, pengaruh opini publik akan makin menyulitkan para psikiater dan psikolog untuk menegakkan diagnosis skizofrenia atau gangguan jiwa lainnya, karena perubahan yang berlangsung di seluruh dunia berlangsung cepat sekali, yaitu yang menyangkut perubahan teknologi informasi (informasi dapat ditransformasikan dalam hitungan detik dari seluruh pelosok dunia ke pelosok dunia lainnya), revolusi teknologi nano (sehingga dapat diciptakan alat-alat mikro dibidang kedokteran, komunikasi dsb.) dan tekonologi genome (yang memungkinkan kloning dan pengobatan penyakit-penyakit degeneratif). Dampak dari itu semua adalah perubahan drastis pada norma-norma dan nilai-nilai sosial. Hal-hal yang di masa lalu pernah dianggap abnormal (seks pranikah, penerbang atau dokter bedah wanita, homoseksual, single parent, perawan tua dsb.), sekarang dianggap normal. Sementara yang dulu pernah dianggap normal (keluarga besar, keperawanan, ritual keagamaan, dsb.) sekarang justru dianggap aneh. Hal-hal yang dulu dianggap normal di negara-negara Barat (fast food, busana terbuka pada wanita, berpelukan di tempat umum, musik funky, hashish, bicara to the point) sekarang dianggap biasa di Timur (termasuk Indonesia), sebaliknya yang dulu hanya dilakukan oleh orang Timur (kepercayaan/agama, upacara perkawinan, seni musik dan seni rupa, busana tradisional dsb.) mulai merebak di kalangan orang Barat. Sebagai akibatnya makin sulit dilakukan klasifikasi antara normal dengan abnormal, apalagi skizofrenia dengan MPD/DID atau ketegori gangguan jiwa lainnya.

Demikian pula akan semakin rumit untuk menentukan etiologi penyakit, karena makin majemuknya kondisi lingkungan sekarang disbanding dulu. Jika dulu, di desa-desa terpencil didapati seorang penderita skizofrenia (biasanya dipasung oleh keluarganya) dokter dengan mudah dapat menemukan adanya faktor keturunan pada kasus tersebut. Namun sekarang, di kota-kota besar, dengan tekonologi komunikasi yang menyebabkan tidak ada lagi batas-batas negara dan budaya (borderless world) sulit untuk membedakan pasien-pasien yang disebabkan oleh faktor genetik dari yang disebabkan oleh faktor lain, misalnya: culture shock.

Namun bagaimanapun juga, selalu perlu dijaga agar dunia ilmu dan profesi (dalam hal ini kedokteran, psikiatri dan psikologi) tidak tercemari oleh opini publik yang awam, apalagi yang sudah tersusupi oleh berbagai kepentingan (politik, komersial dsb[5].). Opini publik tidak akan pernah dan tidak mungkin disuruh berhenti berkembang dan berubah. Dalam hubungan itu, para ilmuwan dan profesionallah yang harus berusaha mempengaruhi opini publik, bukan sebaliknya. Untuk itu perlu selalu dipertahankan sikap ilmiah yang obyektif, kritis terhadap teori-teori dan metodologi sendiri dan selalu terbuka terhadap wawasan yang datang dari orang lain. Selain itu ada baiknya kalau para ilmuwan dan professional selalu mengacu pada anjuran Sir Francis Bacon untuk menghindari sesat pikir yang ditimbulkan oleh idola-idola, yaitu idola tribus (golongannya sendiri yang benar), idola specus (saya sendiri yang benar), idola theatri (pakar selalu benar) dan idola fori (pendapat umum selalu benar) (Sarwono, 1998).

Catatan kaki

[4] Contoh: Megawati dinyatakan tidak layak menjadi presiden, ketika Gus Dur yang menderita beberapa penyakit fisik hendak dijadikan presiden (1999), tetapi beberapa saat kemudian (2001) Megawati tiba-tiba menjadi layak jadi presiden, sementara Gus Dur tidak layak karena pernah stroke dan tidak dapat melihat; Pansus Bulogate I dibuat oleh DPR untuk menjatuhkan Gus Dur (walaupun sudah ada keputusan pengadilan yang membebaskan Gus Dur), tetapi Pansus Bulogate II tidak dibentuk dengan alasan sudah di proses di pengadilan, walau pun akhirnya Akbar Tanjung dinyatakan bersalah (dan yang bersangkutan tetap dipertahakan sebagai Ketua DPR dan Ketua Golkar).

[5] Misalnya: pernah ada gagasan untuk memeriksa kesehatan mental (antara lain dengan psikotes) semua calon anggota DPR/DPRD). Walaupun ada peraturan yang memungkinkannya, pelaksanaan gagasan ini akan melibatkan para professional (psikiater dan psikolog) ke dalam politik praktis atau bahkan politik uang

Kepustakaan

  • Aul, E.T., 1996, As You Desire Me: The Psychology of Multiple Personality, Seattle: JH White Pubs Co
  • Bottoms, B.L., Shaver, P.R. & Goodman, G.S., 1996, An Analysis of Ritualistic and Religion-related Child Abuse Allegations, Law and Human Behavior, Feb Vol 20 (1) 1-34
  • Byalin, K., Jed, J. & Lehmann, S., 1983, Designing and Evaluating Intervention strategies for Deinstitutionalized mental patients, International Review of Applied Psychology, Jul Vol 34 (3) 381-390
  • Clementz, B.A., & Sweeney, J.A., 1990, Is Eye Movement Dysfunction a Biological Marker for Schizophrenia? A Methodological Review, Psychological Bulletin, Jul Vol 108 (1) 77-92
  • Davidson, L., Stayner, D.A., Lambert, S., Smith, P. & Sledge, W.H., 1997, Phenomenological and Participatory Research on Schizophrenia: Recovering the Person in Theory and Practice, Journal of Social Issues, Win Vol 53 (4) 767-784
  • Faraone, S.V. & Tsuang, M.T., 1985, Quantitative models of the genetic transmission of Schizophrenia, Psychological Bulletin, Jul Vol 98 (1) 41-66
  • Fontana, A.F., 1966, Familial Etiology of Schizophrenia: Is a Scientific Methodology Possible?, Psychological Bulletin, 66n(3) 214-227

    ?
  • Gellen, M.I., Hoffman, R.A., Jones, M., & Stone, M., 1984, Abused and nonabused women: MMPI Profile differences, Psychological Bulletin, Jun Vol 62 (10) 601-604
  • Gleaves, D.H., 1996, The Sociocognitive model of Dissociative Identitiy Disorder: A Reexamination of the Evidence, Psychological Bulletin, Jul Vol 120 (1) 42-59
  • Guirguis, W.R., 1980, The Family and Schizophrenia, Psychological Bulletin, Jul Vol 10 (7) 45-54
  • L'Abate, L., 1972, Early Infantile Autism: A Reply to Ward, Psychological Bulletin, Jan Vol 77 (1) 49-51
  • Liberman, R.P., Teigen, J., Patterson, R. & Baker, V., 1973, Reducing Delusional Speech in Chronic, paranoid schizophrenics, Journal of Applied Behavior Analysis, Spr Vol 6 (1) 57-64
  • McCaghy, C.H., Capron, T.A. & Jamieson, J.D., 2002, Deviant Behavior: Crime. Conflict and Interest Groups, Boston: Allyn & Bacon
  • Mednick, S.A. & McNeil, T.F., 1968, Current Methodology in Research on Etiology of Schizophrenia. Serious difficulties which suggest the use of the high-risk-group Method, Psychological Bulletin, 70 (6, Pt 1) 681-693)
  • Morguelan, F.N., Michael, W.B. & Allen, R.E., 1978, The design and Development of a Measure consisting of Demographic-biographical and Symptom-related items for Prediction of Community Adjustment of Schizophrenia patients, Educational & Psychological Measurement, Sum Vol 38 (2) 491-499
  • O'Brien, F., Azrin, N.H. & Henson, K., 1969, Increased Communications of Chronic Mental Patients by Reinforcement and by Response Priming, Journal of Applied Behavior Analysis, 2 (1) 23-29
  • Radwin, J.O., 1991, The Multiple Personality Disorder: has this trendy alibi lost its way?, Law & Psychology Review, Spr Vol 15 351-373
  • Rimland, B., 1972, Comment on Ward's "Early Infantile Autism", Psychological Bulletin, Jan Vol 77 (1) 52-53
  • Rosenthal, D., 1962, Familial Concordance by sex with respect to Schizophrenia, Psychological Bulletin, 59 (4) 401-421
  • Sarwono, S.W., 1998, Berkenalan dengan tokoh-tokoh dan aliran-aliran Psikologi, Jakarta: Bulan Bintang
  • Schreiber, F.R., 1973, Sybil, penterjemah: Sarlito W. Sarwono, 1984, Jakarta: Sinar Harapan
  • Schreibman, L. & Carr, E.G., 1978, Elimination of Echolalic Responding to Questions through the Training of a Generalized Verbal Response, Journal of Applied Behavior Analysis, Win, Vol 11 (4) 453-463
  • Sheppard, B.H., 1992, Conflict Research as Schizophrenia: The many Faces of Organizational Conflicts, Journal of Organizational Behavior, May Vol 13 (3) 325-334
  • Southard, E.E., 1915, General Reviews and Summaries: General Psychopathology, Psychological Bulletin, Jul Vol 12 (7) 245-273
  • Spanos, N., 1994, Multiple Identity Enactments and Multiple Personality Disorder: A Sociocognitive Perspective, Psychological Bulletin, Jul Vol 116 (1) 143-165
  • Stewart, G., Van Houten, R., & van Houten, J., 1992, Increasing Generalized Social Interactions in Psychotic and Mentally Retarded residents through pre-medicated therapy, Journal of Applied Behavior Analysis, Sum Vol 25 (2) 335-339
  • Ward, A.J., 1970, Early Infantile Autism: Diagnosis, etiology, and Treatment, Psychological Bulletin, 73 (5) 350-362

MUSIK MERUPAKAN STIMULASI TERHADAP KESEIMBANGAN ASPEK KOGNITIF DAN KECERDASAN EMOSI

MUSIK MERUPAKAN STIMULASI TERHADAP
KESEIMBANGAN ASPEK KOGNITIF DAN KECERDASAN EMOSI

Musik memberikan banyak manfaat kepada manusia atau siswa seperti merangsang pikiran, memperbaiki konsenstrasi dan ingatan, meningkatkan aspek kognitif, membangun kecerdasan emosional, dll. Siswa yang mendapat pendidikan musik jika kelak dewasa akan menjadi manusia yang berpikiran logis, sekaligus cerdas, kreatif, dan mampu mengambil keputusan, serta mempunyai empati. Namun, pendidikan formal di Indonesia tidak menekankan keseimbangan antara aspek intelektual dan emosi. Keadaan ideal ini dapat dilaksanakan dengan mengadakan pembenahan untuk meningkatkan sumber daya manusia Indonesia melalui kurikulum pendidikan musik sebagai mata pelajaran wajib di tingkat SD dan SLTP.

1. Latar belakang.

Semua bangsa maju di dunia seperti Jerman, Amerika, Jepang, Inggris, Australia dan negara Eropa pada umumnya adalah bangsa yang musical. Pengertian musikal yang dimaksud disini adalah pertama dapat memainkan instrumen musik atau menyanyi dengan baik, pengertian kedua tidak dapat bermain musik atau menyanyi dengan baik, tetapi dapat mengapresiasikan musik. Disini dimana musik diperhatikan benar oleh Negara-negara tersebut dimana dibuktikan dengan smua sekolah unggulan memasukkan mata pelajaran musik sebagai materi wajib intrakurikuler dan diperkaya dengan kegiatan ekstrakurikuler, dimana materi pelajaran musik yang diajarkan meliputi musik universal dan musik tradisional, dan nampak hasil pembelajaran siswa-siswa sekolah unggulan tersebut pun rata-rata sangat baik.

Namun kurikulum nasional di Indonesia, hanya menekankan perkembangan intelektual semata dan kurang memperhatikan perkembangan kecerdasan emosi. Hal ini tampak dengan banyaknya tawuran pelajaran di tingkat sekolah menengah dan tingkat lanjutan pertama, siswa sekolah dasar terbebani dengan padatnya mata pelajaran yang harus dihafal dan yang harus dikerjakan sehingga pembelajaran menghapus keceriaan anak pada masa perkembangannya.Kurikulum pendidikan formal di Indonesia hanya menekankan perkembangan intelektual semata dan tidak memperhatikan perkembangan kecerdasan emosi. Melihat alokasi waktu mata pelajaran musik setiap minggu hanya waktu 2 x 45 menit, (GBPP kurikulum mata pelajaran kesenian 1994) yang masih terbagi dengan mata pelajaran seni tari, seni rupa, dan kerajinan tangan.Need Assessment (Mudhoffir) menemukan perbedaan (discrepancy) antara apa yang ada sekarang dan apa yang idealnya diinginkan ada.

2. Tujuan

1. Tulisan ini bertujuan untuk menginformasikan ilmu pengetahuan tentang teori peran pendidikan musik esensial diberikan dalam pendidikan integral agar peserta didik dapat memperoleh keseimbangan fungsi otak kiri dan kanan yang merupakan pendidikan humanis.

2. Mencari solusi dalam rangka untuk memperbaiki penyimpangan krisis moral yang terjadi pada siswa-siswa sekolah.

3. Memberikan sumbangan pemikiran kepada penentu kebijakan kurikulum Depdiknas agar memasukkan pendidikan musik ke dalam kurikulum nasional di tingkat pendidikan dasar.

3. Kajian Teori

Penelitian menunjukkan bahwa musik dapat memberikan rangsangan-rangsangan yang kaya untuk segala aspek perkembangan secara kognitif dan kecerdasan emosional (EQ).

i. Musik Memberikan Rangsangan Terhadap Aspek Kognitif (Matematik)

*Kognitif merupakan semua proses dan produk pikiran untuk mencapai pengetahuan yang berupa aktivitas mental seperti mengingat, mensimbolkan, mengkategorikan, memecahkan masalah, menciptakan dan berfantasi.

*Mengacu pada perkembangan kognitif dari Piaget (1969) dalam teori belajar yang didasari oleh perkembangan motorik, maka salah satu yang penting yang perlu distimulasi adalah keterampilan bergerak.

Gallahue, (1998) mengatakan, kemampuan-kemampuan yang mengacu pada perkembangan kognitif dari Piaget (1969) seperti ini makin dioptimalkan melalui stimulasi dengan memperdengarkan musik klasik. Rithme, melodi, dan harmoni dari musik klasik dapat merupakan stimulasi untuk meningkatkan kemampuan belajar anak. Melalui musik klasik anak mudah menangkap hubungan antara waktu, jarak dan urutan (rangkaian) yang merupakan keterampilan yang dibutuhkan untuk kecakapan dalam logika berpikir, matematika dan penyelesaian masalah.

Herry Chunagi (1996) Siegel (1999), yang didasarkan atas teori neuron (sel kondiktor pada sistem saraf), menjelaskan bahwa neuron akan menjadi sirkuit jika ada rangsangan musik, rangsangan yang berupa gerakan, elusan, suara mengakibatkan neuron yang terpisah bertautan dan mengintegrasikan diri dalam sirkuit otak. Semakin banyak rangsangan musik diberikan akan semakin kompleks jalinan antarneuron itu. Itulah sebenarnya dasar adanya kemampuan matematika, logika, bahasa, musik, dan emosi pada anak.

Gordon Shaw (1996) dalam newsweek (1996) mengatakan kecakapan dalam bidang yakni matematika, logika, bahasa, musik dan emosi bisa dilatih sejak kanak-kanak melalui musik.

*Musik berhasil merangsang pola pikir dan menjadi jembatan bagi pemikiran-pemikiran yang lebih kompleks.

Martin Gardiner (1996) dalam Goleman (1995) dari hasil penelitiannya mengatakan seni dan musik dapat membuat para siswa lebih pintar, musik dapat membantu otak berfokus pada hal lain yang dipelajari.

Daryono Sutoyo, Guru Besar Biologi UNS Solo, melakukan penelitian (1981) tentang kontribusi musik yaitu menstimulasi otak, mengatakan bahwa pendidikan kesenian penting diajarkan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) agar peserta didik sejak dini memperoleh stimulasi yang seimbang antara belahan otak kiri dan belahan otak kanannya. Implementasi dari penelitian tersebut, pendidikan kesenian sewaktu di SD mempengaruhi keberhasilan studi pada pendidikan berikutnya.

ii. Musik sebagai pendekatan belajar

*Berbagai sirkuit pada otak mempunyai waktu perkembangan yang berbeda-beda. Merangsang anak pada waktu masa perkembangan yang tepat bisa memaksimalkan kemampuannya. Kemampuan matematika dan logika ada dalam korteks otak yang berdekatan dengan kemampuan musik dengan masa pembentukan 0 – 4 tahun

iii. Musik dan kecerdasan emosi

*Para ilmuwan sering membicarakan bagian otak yang digunakan untuk berfikir yaitu korteks, (kadang-kadang disebut neokorteks) sebagai bagian yang berbeda dari bagian otak yang mengurangi emosi yaitu sistem limbik. Padahal keduanya mempunyai hubungan. Interaksi yang disebabkan rangsangan bunyi musik yang menentukan kecerdasan emosional.

*Proses mendengar musik merupakan salah satu bentuk komunikasi afektif dan memberikan pengalaman emosional. Emosi yang merupakan suatu pengalaman subjektif yang inherent terdapat pada setiap manusia. Untuk dapat merasakan dan menghayati serta mengevaluasi makna dari interaksi dengan lingkungan, ternyata dapat dirangsang dan dioptimalkan perkembangannya melalui musik sejak masa dini.

4. Aspek-aspek Kecerdasan Emosi

Peter Salovey dan John Mayer (1990) dalam Shapiro (1997) menerangkan kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan kualitas ini adalah kemampuan mengenali emosi diri. Mereka mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah :

1. Kemampuan mengenali emosi diri

Merupakan kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri sewaktu perasaan atau emosi itu muncul, dan ia mampu mengenali emosinya sendiri apabila ia memiliki kepekaan yang tinggi atas perasaan mereka yang sesungguhnya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara mantap.

Kemampuan mengelola emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaannya sendiri sehingga tidak meledak dan akhirnya dapat mempengaruhi perilakunya secara wajar.

2. Kepekaan

Kepekaan adalah unsur yang penting guna mengerahkan kepribadian dan meningkatkan kualitas hidup. Seseorang memiliki kepekaan yang tinggi atas perasaan mereka maka ia akan dapat mengambil keputusan-keputusan secara mantap dan membentuk kepribadian yang tangguh. Kepekaan akan rasa indah timbul melalui pengalaman yang dapat diperoleh dari menghayati musik

3. Kemampuan motivasi

Kemampuan motivasi adalah kemampuan untuk memberikan semangat kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat.

4. Kemampuan membina hubungan

Bersosialisasi sama artinya dengan kemampuan mengelola emosi orang lain. Evelyn Pitcer dalam Kartini (1982) mengatakan musik membantu anak-anak untuk mengerti orang lain dan memberikan kesempatan dalam pergaulan sosial dan perkembangan terhadap emosional mereka.

5. Kemampuan untuk mengelola emosi orang lain

Sehingga tercipta keterampilan sosial yang tinggi dan membuat pergaulan seseorang menjadi lebih luas. Anak-anak dengan kemampuan ini cenderung mempunyai banyak teman, pandai bergaul. Melalui belajar kelompok (group) dituntut untuk bekerjasama, mengerti orang lain.

Kecerdasan emosional perlu dikembangkan karena hal inilah yang mendasari keterampilan seseorang di tengah masyarakat kelak, sehingga akan membuat seluruh potensi anak dapat berkembang secara lebih optimal.

Idealnya seseorang dapat menguasai keterampilan kognitif sekaligus keterampilan sosial emosional. Daniel Goleman (1995) melalui bukunya yang terkenal "Emotional Intelligences (EQ)", memberikan gambaran spectrum kecerdasan, dengan demikian anak akan cakap dalam bidang masing-masing namun juga menjadi amat ahli. Sebagaimana dikatakan oleh para ahli, perkembangan kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh rangsangan musik seperti yang dikatakan Gordon Shaw (1996).

Agar terjadi keseimbangan antara belahan otak kiri dan kanan, keajaiban musik dapat menyehatkan jiwa, menciptakan kegembiraan sebagai pendekatan belajar untuk mengajarkan berhitung, mengajarkan sopan santun dan lain sebagainya, dengan musik siswa dapat menyalurkan emosinya secara positif sehingga dapat mencegah terjadinya tawuran sesama pelajar.

5. Kesimpulan

(1) Musik memberikan rangsangan terhadap jalinan antara neuron, sehingga neuron yang bertautan akan meningkatkan kemampuan matematika dan emosi.

(2) Musik merangsang pikiran.

(3) Musik memperbaiki konsentrasi dan ingatan.

(4) Musik membuat siswa lebih pintar.

(5) Musik meningkatkan aspek kognitif.

(6) Musik membangun kecerdasan emosional.

(7) Siswa yang mendapat pendidikan musik jika kelak dewasa akan menjadi manusia yang berpikiran logis, sekaligus cerdas, kreatif dan mampu mengambil keputusan dan mempunyai empati.

(8) Dengan pendidikan musik, anak memperoleh stimulasi yang seimbang antara belahan otak kiri dan belahan otak kanan, artinya terdapat keseimbangan antara aspek kognitif dan aspek emosi.

6. Saran

1. Kepada para pengambil keputusan agar pendidikan musik menjadi bagian integral materi pelajaran intrakurikuler dari tingkat SD dan SLTP, dan mendapatkan alokasi waktu yang sama dengan mata pelajaran matematika.

2. Seharusnya kurikulum nasional memasukan mata pelajaran musik dalam materi intrakurikuler dilengkapi dengan kegiatan ekstrakurikuler dan tidak terintegrated dengan mata pelajaran kesenian lainnya. Hal ini dimaksudkan agar terjadi keseimbangan antara aspek intelektual dan emosi yang dapat menghasilkan generasi yang pintar, berbudi luhur dan berbudaya yaitu manusia sehat jasmani dan rohani, mencintai bangsanya dan sesama manusia seperti yang termaktub di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara.