Terapi Gangguan Jiwa

Pengaruh Opini Publik terhadap Teori, Diagnosis dan Terapi Gangguan Jiwa *

Abstrak

Teori, diagnosis dan terapi ganguan jiwa (termasuk skizofrenia) ternyata berubah dari masa ke masa. Hal ini sangat dipengaruhi oleh konstelasi sosial, budaya, bahkan politik pada masa yang terkait. Tidak mengherankan jika satu gejala dapat didiagnosis berbeda-beda pada masa yang berbeda dengan konsekuensi perbedaan teknik terapi (dulu harus dimasukkan lembaga perawatan, sekarang bisa berobat jalan), bahkan dengan kemungkinan salah diagnosis dan salah terapi (didagnosis sakit padahal sehat, didiagnosis tidak ada gangguan padahal pembunuh serial). Pengaruh publik opini (awam, termasuk media massa) sangat besar, karena ternyata para ilmuwan (termasuk dokter dan psikolog) sendiri bisa terpengaruh oleh opini publik tersebut. Kerancuan akan makin menjadi-jadi karena perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat akan menyebabkan pergantian norma berlangsung sangat cepat sehingga para ilmuwan lebih mudah terpengaruh dan kehilangan pegangan. Untuk mengatasinya, para ilmuwan (khususnya para psikiater dan psikolog) sendiri harus tetap memegang teguh disiplin ilmu agar bisa selalu menegakkan diagnosis dan memberikan terapi yang paling tepat dan selanjutnya mempengaruhi opini publik (bukan dipengaruhi oleh opini publik)

Pendahuluan

Ketika saya masih mengikuti kuliah "Psikologi Abnormal" dan "Psikoterapi" dan berpraktek di Bagian Kedokteran Jiwa RSCM, Jakarta, di tahun 1965-1967, dan juga dari berbagai literatur yang saya baca sampai pertengahan tahun 1970-an saya selalu diberitahu bahwa Multiple Personality Disorder/MPD (dulu namanya Split Personality dan sekarang ada beberapa literatur yang menyebutnya Dissociative Identity Disorder/DID (McCaghy, Capron & Jamieson, 2002; Gleaves, 1996)) sebagai salah satu bentuk skizofrenia (yang oleh awam sering disebut "gila", "sinting", "edan" atau "sarap"), yang gejalanya antara lain adalah adanya waham (delusi), halusinasi dan flight of ideas. Karena itu cara bicara seorang skizofren tidak mudah dimengerti ("ngaco"), perbuatannya bizarre (tidak karuan), bahkan bisa berbahaya (menyerang orang lain dsb.), sehingga mereka perlu dirawat-inapkan di Rumah Sakit Jiwa (di Jakarta, yang paling dikenal dan selalu diberi konotasi negatip adalah RSJ Grogol). Maka tidak mengherankan jika orang (awam maupun ilmuwan) percaya bahwa penyandang MPD-pun bisa berperilaku bizarre dan berbahaya seperti yang digambarkan dalam film-film "Mr Hyde & Dr Jeckyl", "Psycho" dan sebagainya.

Akan tetapi kenyataan yang ada sekarang tidaklah demikian. Saya sendiri sejak awal 2001 sampai saat artikel ini ditulis, masih menangani satu kasus MPD. Kasus ini tahun lalu (ketika itu masih SMU kelas II) dibawa kepada saya karena kedapatan sedang mengiris-iris lengannya dengan cutter dan menolak untuk dibawa ke psikiater karena tidak mau discanning. Tetapi sekarang (sudah kuliah), remaja putri yang IQ-nya 147 dan sangat pandai menggambar ini, sudah tidak lagi mengirisi lengannya (berhenti setelah 2 kali konsultasi) dan sudah mulai bisa bersosialisasi dengan kawan-kawan chatting (internet)-nya dan sekarang dengan teman-teman kuliahnya (jurusan disain grafis). Di luar itu, kasus ini adalah anak yang selalu nampak normal dan selalu berprestasi tinggi walaupun jarang ngobrol dengan orangtuanya dan cenderung menyendiri dengan komputernya. Psikoterapi masih terus dilanjutkan dengan sasaran untuk lebih mengenali 6-10 kepribadian (sulit diidentifikasi karena hilang-timbul) dalam diri kasus dan mengupayakan rekonsiliasi di antara mereka (untuk sementara mereka belum mau berintegrasi). Dengan perkataan lain, sosok MPD seperti yang digambarkan dalam film-film (dan juga telenovela dan sinetron), sama sekali tidak nampak pada diri kasus.

Sosok MPD yang jauh berbeda dari yang digambarkan oleh media massa, ternyata tidak hanya terdapat pada kasus saya tsb. Ketika saya menterjemahkan buku Sybil saya mendapati bahwa dokter Wilbur, psikiater yang menangani pasien dengan 16 kepribadian ini, tidak mendiagnosis Sybil dengan skizofrenia, melainkan sebagai dissociative personality (Schreiber, 1974: 324). Demikian pula Karl May, penulis buku-buku petualangan yang sangat terkenal (petualangan Old Shutterhand dengan "bedil perak"-nya di benua Amerika, di sudut-sudut Balkan dan di Aceh), adalah seorang MPD yang buta sejak kecil dan tidak pernah keluar dari kampung halamannya. Juga E.T. Aul yang dalam otobiografinya bisa menyatakan bahwa para dokternya yang semuanya sangat professional itu tahu bahwa ia mengalami gejala MPD, tetapi tetap berkeras mendiagnosisnya sebagai skizofrenia, karena pada waktu itu (tahun 1940-an) MPD tidak ada dalam ketegori diagnosis psikiatri, sehingga bagaimana pun juga Aul tidak dapat didiagnosis sebagai MPD (Aul, 1996: 65). Jadi, keempat sosok MPD ini (termasuk kasus saya sendiri) jelas bukan skizofrenia, apalagi yang berberilaku agresif dan destruktif seperti yang digambarkan oleh media massa. Mereka justru orang-orang yang sangat pandai, kreatif dan banyak membaca (pada umumnya MPD memang berciri seperti itu), yang kebetulan pernah mengalami trauma mental di masa kecilnya (sebagai salah satu indikator dan prediktor MPD, lihat: Glaves, 1996)

Teori labelling

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai orangtua yang menyebut anaknya. "Nakal". Tidak jarang sebutan itu dilontarkan demikian saja, tanpa alasan yang jelas (kadang-kadang hanya untuk menunjukkan bahwa orangtua tidak memanjakan anak). Akibatnya adalah bahwa anak yang awalnya tidak bermasalah bisa sungguh-sungguh menjadi masalah karena selalu diberi stigma nakal. Dalam psikologi, penyesuaian diri pada stigma ini didasari oleh proses modeling, reinforcement atau conditoning yang analog dengan proses conditioning pada anjing Pavlov (lihat: Sarwono, 1998), sedangkan psikolog Thomas J. Scheff menamakannya teori labelling (dalam McCaghy, Capron & Jamieson, 2002: 348-349).

Teori labelling ini pada prinsipnya menyatakan dua hal. Pertama, orang berperilaku normal atau tidak normal, menyimpang atau tidak menyimpang, tergantung pada bagaimana orang-orang lain (orangtua, keluarga, masyarakat) menilainya. Penilaian itu ditentukan oleh kategorisasi yang sudah melekat pada pemikiran orang lain tersebut. Segala sesuatu yang dianggap tidak termasuk ke dalam kategori-kategori yang sudah dianggap baku oleh masyarakat (dinamakan: residual) otomatis akan dianggap menyimpang. Karena itulah orang bisa dianggap sakit jiwa hanya karena berbaju atau bertindak "aneh" pada suatu tempat/masa tertentu. Kedua, penilaian itu berubah dari waktu ke waktu, sehingga orang yang hari ini dinyatakan sakit bisa dinyatakan sehat (dengan gejala yang sama) beberapa tahun kemudian, atau sebaliknya.

Tetapi yang menjadi masalah adalah bahwa yang terkena pengaruh labelling ini bukan hanya awam (khususnya pasien atau subyek), melainkan juga ilmuwan (termasuk para dokter dan psikolog sendiri). Anggota Kongres AS yang terkemuka, Barry Goldwater, misalnya, pernah didiagnosis sebagai "skizofrenia paranoid"; presiden AS dan pemenang hadiah Nobel Woodrow Wilson, pernah didiagnosis sebagai "sangat mirip psikosis"; dan semua politisi Uni Sovyet yang menjalani pemeriksaan psikiatrik didiagnosis sebagai "kepribadian psikopat", "cenderung paranoid" atau "skizofrenia" dengan simptom-simptom: "idea reformis, perilaku bizarre, emosi datar, emosi tak adekwat, tidak kritis pada situasi, mau benar sendiri, bereaksi tidak sesuai dengan situasi dan kecenderungan untuk memoralisasi segala sesuatu" (McCaghy, Capron & Jamieson, 2002: 356).

Perubahan teknik terapi

Psikiater Emil Kraepelin pada awal abad ke XX menamakan skizofrenia dengan istilah dementia precox, karena ia menemukan gejala kemunduran (dementia) tidak pada usia lanjut (dementia senilis) seperti biasanya, melainkan pada usia remaja (precox) (Southard, 1915; Sarwono, 1998).

Istilah skizofrenia kemudian digunakan untuk lebih menggambarkan penyakit yang bukan sekedar dementia, melainkan juga terjadi perpecahan kepribadian (schism), yaitu tidak seiringnya lagi pikiran, emosi dan perbuatan penderita. Awalnya penanganan terhadap penyakit ini harus dilakukan di institusi (RSJ), karena jika hanya dirawat dengan berobat jalan, sangat boleh jadi pasien akan membahayakan orang lain atau dirinya sendiri. Akibatnya berbagai insitusi di Amerika Serikat (dan juga di Indonesia) makin penuh sesak dengan pasien rawat-inap, karena pada umumnya mereka harus dirawat untuk jangka waktu yang lama. Namun sejak 1955, terjadi revolusi psikiatri dengan ditemukannya obat-obat yang bisa mengurangi gejala penyakit ini (lithium, antipsikotik, tranquilizers dll.), sehingga jumlah pasien rawat inap di Amerika Serikat menurun drastik (McCaghy, Capron & Jamieson, 2002: 353; Byalin, Jed & Lehman, 1985).

Penyebab lainnya adalah telah dikembangkannya teknik-teknik psikoterapi baru untuk mengurangi gejala-gejala skizofrenia, seperti peer therapy (Stewart, van Houten & van Houten, 1992), pemanfaatan input dari pasien sendiri (Davidson, et al. 1997), teknik reinforcement yang dinamakan priming untuk meningkatkan perilaku yang diharapkan dari pasien-pasien skizofrenia kronis (O'Brien, Azrin & Henson, 1969), dan teknik reinforcement lain untuk mengurangi gejala latah/echolalia (Schreibman, Carr, 1978) dan sebagainya.

Walaupun demikian, perubahan dalam teknik-teknik terapi ini tidak selalu berhasil. Teknik reinforcement untuk mengurangi delusional speech pada penderita skizofrenia kronis rawat inap, misalnya, hanya berhasil pada sesi-sesi terapi (wawancara, diskusi kelompok dsb.), tetapi tidak berpengaruh pada perilaku sehari-hari pasien di institusi (Liberman, et al, 1973). Bahkan ada kalanya dokter salah memperlakukan pasien dengan merawat paksa orang normal[1] atau justru membebaskan pasien yang berbahaya[2] (McCaghy, Capron & Jamieson, 2002: 357).

Catatan kaki

[1] Pada tahun 1962, Leonard Frank membuat risau orangtuanya karena agama baru dan pandangan politiknya yang aneh, termasuk tidak mau mencukur rambut dan jenggot serta tiba-tiba menjadi vegetarian. Leonard dipaksa masuk RSJ, didiagnose sebagai skizofrenia paranoid dan diobati dengan insulin coma dan terapi electroconvulsive dengan akibat ia menderita amnesia. Kemudian ia menjadi aktivis LSM anti perawatan paksa.

[2] Pada tahun 1964, pada usia 15, Edmund Kemper membunuh kedua kakek-neneknya dan dirawat di RSJ dengan diagnosis criminally insane. Pada tahun 1969 ia dinyatakan sembuh dan dilepaskan. Pada tahun 1972 ia minta diklarifikasi catatan kriminalnya yang berarti ia harus menjalani pemeriksaan psikiatrik. Sementara itu ia membunuh lagi dan memutilasi 2 gadis remaja dan 3 hari setelah pembunuhan itu para psikiater pengadilan mendiagnosisnya sebagai tidak berbahaya lagi bagi masyarakat. Setelah itu ia membunuh lagi 2 gadis dan pada tahun 1973 ia membunuh lagi 2 gadis dan ibunya sendiri.

Perubahan paradigma

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah teori yang bagaimana yang seharusnya dipakai? Paradigma mana yang benar?

Pertanyaan ini sangat sulit dijawab, karena pada hakikatnya upaya diagnosis pada pasien-pasien psikiatrik sangat tergantung pada norma dan konstelasi sosial, budaya, bahkan politik yang berlaku pada saat itu, sebagaimana tampak pada contoh-contoh yang sudah disebutkan di atas. Karena itulah dari tahun ke tahun, selalu terjadi berbagai perubahan drastik dalam diagnosis psikiatrik. Pada tahun 1915, misalnya, sebuah review tentang berbagai publikasi tentang psikopatologi yang terbit antara tahun 1913-1914 sudah menunjukkan berbagai kontroversi yang ada ketika itu (dementia precox vs skizofrenia, kategorisasi skizofrenia, normal vs abnormal, teori co-consciousness, etiologi feeble minded dsb.) (Southard, 1915). Demikian pula diagnosis anxiety neurosis pada tahun 1950-an, dinamakan affective disorders pada tahun 1970-an (McCaghy, Capron & Jamieson, 2002: 356) dan kategorisasi utama penyakit-penyakit dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders/DSM IV (yang berlaku sejak 1994 sampai sekarang) berjumlah 16 jenis, yaitu bertambah 10 jenis dari DSM III-R (1987) (McCaghy, Capron & Jamieson, 2002: 338).

Perubahan-perubahan paradigma ini juga tidak terlepas dari temuan-temuan berbagai penelitian yang sangat divergen. Dalam sebuah penelitian, misalnya, skizofrenia dianalogikan dengan perusahaan yang mengalami berbagai konflik organisasi (Sheppard, 1992). Penelitian lain menemukan pengaruh yang besar dari faktor lingkungan keluarga (Fontana, 1966; Rosenthal, 1962), tetapi penelitian yang lebih mutakhir menyatakan bahwa tidak cukup bukti tentang faktor keluarga ini (Guirguis, 1980) dan bahwa faktor genetik lebih besar pengaruhnya ketimbang faktor kultural (Faraone & Tsuang, 1985), bahkan merupakan faktor utama (Clementz & Sweeney, 1990). Penelitian lain lagi menyangkal adanya pengaruh yang besar dari faktor-faktor demografik dan biografik terhadap keberhasilan penyesuaian diri dari pasien-pasien skizofrenia dalam masyarakat (Morguelan, Michael & Allen, 1978). Kontroversi juga terjadi pada penelitian tentang etiologi autisme pada bayi (Early Infantile Autism), yaitu antara overstimulation dan understimulation (Ward, 1970), sementara kriteria autism itu sendiri pun masih dipertanyakan (Rimland, 1972; L'abate, 1972).

Penelitian-penelitian dalam bidang MPD/DID (yang pernah dikategorisasikan ke dalam skizofrenia) juga menampakkan kontroversi. Sebagian psikolog berpendapat bahwa MPD/DID adalah sebuah konstruk sosio-kognitif pada penderita, yaitu bahwa pasien yang bersangkutan hanya meniru atau menyesuaikan diri pada harapan orang lain atau model yang dihadapinya (Spanos, 1994), sementara psikolog lain pada umumnya masih berpendapat bahwa etiologi MPD/DID adalah trauma masa lalu, khususnya masa kanak-kanak. Penerapan paradigma sosio-kognitif pada psikoterapi dianggap berbahaya karena mengabaikan faktor trauma masa lalu terebut (Gleaves,1996)[3]. Penelitian lain tentang MPD/DID adalah bahwa meskipun banyak psikoterapis yang percaya bahwa MPD/DID disebabkan oleh child abuse yang berkaitan dengan ritual-keagamaan, sebuah survai terhadap 2.722 anggota APA (American Psychological Association) yang berpraktek klinis hanya mendapati 803 kasus yang seperti itu (Bottoms, Shaver & Goodman, 1996). Bahkan kontroversi, khususnya ketidak sepahaman para pakar sendiri di bidang MPD/DID ini telah menimbulkan keraguan pada pengadilan-pengadilan di Amerika Serikat tentang kesahihan alibi MPD/DID untuk membebaskan para terdakwa dari tuntutan hukum (Radwin, 1991).

Catatan kaki

[3] Pada kasus MPD yang saya terapi memang ada gejala bahwa subyek/pasien meniru tokoh-tokoh komik yang menjadi hobinya (sosio-kognitif) yaitu dengan menggunakan nama-nama yang mirip dengan nama-nama tokoh komik sebagai nama-nama berbagai kerpibadian dalam dirinya. Namun yang menjadikan awal pertama disosiasi kepribadiannya adalah peristiwa traumatik(diduga sexual abuse) ketika subyek yang introvert ini duduk di SMP kelas III

Diskusi dan kesimpulan

Sebagian peneliti berpendapat bahwa kontroversi tentang skizofrenia (yang sangat boleh jadi berlaku juga bagi gangguan jiwa pada umumnya) disebabkan oleh keterbatasan metodologi penelitian itu sendiri. Misalnya: fokus penelitian masih lebih mengutamakan dampak skizofrenia dari pada etiologinya, penelitian masih lebih banyak dilakukan terhadap pasien-pasien skizofrenia sendiri ketimbang kasus-kasus normal yang berisiko tinggi untuk menderita skizofrenia dan dalam penelitian tentang skizofrenia sendiri kendala timbul karena struktur keluarga bisa berubah-ubah dan menjadi berbeda dari kondisi awal ketika penyakit mulai timbul. Selain itu, penelitian terhadap masa kanak-kanak pasien meamng sangat dibutuhkan, namun terkendala oleh terbatasnya dan bias-nya informasi yang dapat diperoleh karena faktor waktu dan keterbatsan memori (Mednick & McNeil, 1968).

Namun, terlepas dari kendala metodologi itu, harus diakui bahwa skizofrenia adalah penyakit yang mengandung banyak muatan sosial. Karena itu tidak bisa diingkari adanya pengaruh opini publik yang sedang marak pada suatu saat dan tempat tertentu. Jika di Amerika Serikat dan Uni Sovyet, presiden, anggota kongres, pemenang hadiah nobel bisa didiagnosis sebagai penderita gangguan jiwa, di Indonesia pun Bung Karno bisa dinyatakan berindikasi waham kebesaran, Suharto berwaham kekuasaan, Gus Dur menunjukkan gejala flight of ideas atau sleep disorder (karena sering tertidur di sidang kabinet dan MPR) dan Habibie dan Megawati bisa dianggap kurang peka lingkungan. Di sisi lain, semua anggota DPR juga bisa dinyatakan mengidap flight of ideas karena inkonsistensi pemikiran-pemikiran mereka[4], bahkan Gus Dur semasa menjadi presiden pernah menamakan anggota-anggota DPR ini sebagai Taman kanak-kanak (dalam istilah psikologi abnormal: Feeble Minded).

Di era globalisasi ini, pengaruh opini publik akan makin menyulitkan para psikiater dan psikolog untuk menegakkan diagnosis skizofrenia atau gangguan jiwa lainnya, karena perubahan yang berlangsung di seluruh dunia berlangsung cepat sekali, yaitu yang menyangkut perubahan teknologi informasi (informasi dapat ditransformasikan dalam hitungan detik dari seluruh pelosok dunia ke pelosok dunia lainnya), revolusi teknologi nano (sehingga dapat diciptakan alat-alat mikro dibidang kedokteran, komunikasi dsb.) dan tekonologi genome (yang memungkinkan kloning dan pengobatan penyakit-penyakit degeneratif). Dampak dari itu semua adalah perubahan drastis pada norma-norma dan nilai-nilai sosial. Hal-hal yang di masa lalu pernah dianggap abnormal (seks pranikah, penerbang atau dokter bedah wanita, homoseksual, single parent, perawan tua dsb.), sekarang dianggap normal. Sementara yang dulu pernah dianggap normal (keluarga besar, keperawanan, ritual keagamaan, dsb.) sekarang justru dianggap aneh. Hal-hal yang dulu dianggap normal di negara-negara Barat (fast food, busana terbuka pada wanita, berpelukan di tempat umum, musik funky, hashish, bicara to the point) sekarang dianggap biasa di Timur (termasuk Indonesia), sebaliknya yang dulu hanya dilakukan oleh orang Timur (kepercayaan/agama, upacara perkawinan, seni musik dan seni rupa, busana tradisional dsb.) mulai merebak di kalangan orang Barat. Sebagai akibatnya makin sulit dilakukan klasifikasi antara normal dengan abnormal, apalagi skizofrenia dengan MPD/DID atau ketegori gangguan jiwa lainnya.

Demikian pula akan semakin rumit untuk menentukan etiologi penyakit, karena makin majemuknya kondisi lingkungan sekarang disbanding dulu. Jika dulu, di desa-desa terpencil didapati seorang penderita skizofrenia (biasanya dipasung oleh keluarganya) dokter dengan mudah dapat menemukan adanya faktor keturunan pada kasus tersebut. Namun sekarang, di kota-kota besar, dengan tekonologi komunikasi yang menyebabkan tidak ada lagi batas-batas negara dan budaya (borderless world) sulit untuk membedakan pasien-pasien yang disebabkan oleh faktor genetik dari yang disebabkan oleh faktor lain, misalnya: culture shock.

Namun bagaimanapun juga, selalu perlu dijaga agar dunia ilmu dan profesi (dalam hal ini kedokteran, psikiatri dan psikologi) tidak tercemari oleh opini publik yang awam, apalagi yang sudah tersusupi oleh berbagai kepentingan (politik, komersial dsb[5].). Opini publik tidak akan pernah dan tidak mungkin disuruh berhenti berkembang dan berubah. Dalam hubungan itu, para ilmuwan dan profesionallah yang harus berusaha mempengaruhi opini publik, bukan sebaliknya. Untuk itu perlu selalu dipertahankan sikap ilmiah yang obyektif, kritis terhadap teori-teori dan metodologi sendiri dan selalu terbuka terhadap wawasan yang datang dari orang lain. Selain itu ada baiknya kalau para ilmuwan dan professional selalu mengacu pada anjuran Sir Francis Bacon untuk menghindari sesat pikir yang ditimbulkan oleh idola-idola, yaitu idola tribus (golongannya sendiri yang benar), idola specus (saya sendiri yang benar), idola theatri (pakar selalu benar) dan idola fori (pendapat umum selalu benar) (Sarwono, 1998).

Catatan kaki

[4] Contoh: Megawati dinyatakan tidak layak menjadi presiden, ketika Gus Dur yang menderita beberapa penyakit fisik hendak dijadikan presiden (1999), tetapi beberapa saat kemudian (2001) Megawati tiba-tiba menjadi layak jadi presiden, sementara Gus Dur tidak layak karena pernah stroke dan tidak dapat melihat; Pansus Bulogate I dibuat oleh DPR untuk menjatuhkan Gus Dur (walaupun sudah ada keputusan pengadilan yang membebaskan Gus Dur), tetapi Pansus Bulogate II tidak dibentuk dengan alasan sudah di proses di pengadilan, walau pun akhirnya Akbar Tanjung dinyatakan bersalah (dan yang bersangkutan tetap dipertahakan sebagai Ketua DPR dan Ketua Golkar).

[5] Misalnya: pernah ada gagasan untuk memeriksa kesehatan mental (antara lain dengan psikotes) semua calon anggota DPR/DPRD). Walaupun ada peraturan yang memungkinkannya, pelaksanaan gagasan ini akan melibatkan para professional (psikiater dan psikolog) ke dalam politik praktis atau bahkan politik uang

Kepustakaan

  • Aul, E.T., 1996, As You Desire Me: The Psychology of Multiple Personality, Seattle: JH White Pubs Co
  • Bottoms, B.L., Shaver, P.R. & Goodman, G.S., 1996, An Analysis of Ritualistic and Religion-related Child Abuse Allegations, Law and Human Behavior, Feb Vol 20 (1) 1-34
  • Byalin, K., Jed, J. & Lehmann, S., 1983, Designing and Evaluating Intervention strategies for Deinstitutionalized mental patients, International Review of Applied Psychology, Jul Vol 34 (3) 381-390
  • Clementz, B.A., & Sweeney, J.A., 1990, Is Eye Movement Dysfunction a Biological Marker for Schizophrenia? A Methodological Review, Psychological Bulletin, Jul Vol 108 (1) 77-92
  • Davidson, L., Stayner, D.A., Lambert, S., Smith, P. & Sledge, W.H., 1997, Phenomenological and Participatory Research on Schizophrenia: Recovering the Person in Theory and Practice, Journal of Social Issues, Win Vol 53 (4) 767-784
  • Faraone, S.V. & Tsuang, M.T., 1985, Quantitative models of the genetic transmission of Schizophrenia, Psychological Bulletin, Jul Vol 98 (1) 41-66
  • Fontana, A.F., 1966, Familial Etiology of Schizophrenia: Is a Scientific Methodology Possible?, Psychological Bulletin, 66n(3) 214-227

    ?
  • Gellen, M.I., Hoffman, R.A., Jones, M., & Stone, M., 1984, Abused and nonabused women: MMPI Profile differences, Psychological Bulletin, Jun Vol 62 (10) 601-604
  • Gleaves, D.H., 1996, The Sociocognitive model of Dissociative Identitiy Disorder: A Reexamination of the Evidence, Psychological Bulletin, Jul Vol 120 (1) 42-59
  • Guirguis, W.R., 1980, The Family and Schizophrenia, Psychological Bulletin, Jul Vol 10 (7) 45-54
  • L'Abate, L., 1972, Early Infantile Autism: A Reply to Ward, Psychological Bulletin, Jan Vol 77 (1) 49-51
  • Liberman, R.P., Teigen, J., Patterson, R. & Baker, V., 1973, Reducing Delusional Speech in Chronic, paranoid schizophrenics, Journal of Applied Behavior Analysis, Spr Vol 6 (1) 57-64
  • McCaghy, C.H., Capron, T.A. & Jamieson, J.D., 2002, Deviant Behavior: Crime. Conflict and Interest Groups, Boston: Allyn & Bacon
  • Mednick, S.A. & McNeil, T.F., 1968, Current Methodology in Research on Etiology of Schizophrenia. Serious difficulties which suggest the use of the high-risk-group Method, Psychological Bulletin, 70 (6, Pt 1) 681-693)
  • Morguelan, F.N., Michael, W.B. & Allen, R.E., 1978, The design and Development of a Measure consisting of Demographic-biographical and Symptom-related items for Prediction of Community Adjustment of Schizophrenia patients, Educational & Psychological Measurement, Sum Vol 38 (2) 491-499
  • O'Brien, F., Azrin, N.H. & Henson, K., 1969, Increased Communications of Chronic Mental Patients by Reinforcement and by Response Priming, Journal of Applied Behavior Analysis, 2 (1) 23-29
  • Radwin, J.O., 1991, The Multiple Personality Disorder: has this trendy alibi lost its way?, Law & Psychology Review, Spr Vol 15 351-373
  • Rimland, B., 1972, Comment on Ward's "Early Infantile Autism", Psychological Bulletin, Jan Vol 77 (1) 52-53
  • Rosenthal, D., 1962, Familial Concordance by sex with respect to Schizophrenia, Psychological Bulletin, 59 (4) 401-421
  • Sarwono, S.W., 1998, Berkenalan dengan tokoh-tokoh dan aliran-aliran Psikologi, Jakarta: Bulan Bintang
  • Schreiber, F.R., 1973, Sybil, penterjemah: Sarlito W. Sarwono, 1984, Jakarta: Sinar Harapan
  • Schreibman, L. & Carr, E.G., 1978, Elimination of Echolalic Responding to Questions through the Training of a Generalized Verbal Response, Journal of Applied Behavior Analysis, Win, Vol 11 (4) 453-463
  • Sheppard, B.H., 1992, Conflict Research as Schizophrenia: The many Faces of Organizational Conflicts, Journal of Organizational Behavior, May Vol 13 (3) 325-334
  • Southard, E.E., 1915, General Reviews and Summaries: General Psychopathology, Psychological Bulletin, Jul Vol 12 (7) 245-273
  • Spanos, N., 1994, Multiple Identity Enactments and Multiple Personality Disorder: A Sociocognitive Perspective, Psychological Bulletin, Jul Vol 116 (1) 143-165
  • Stewart, G., Van Houten, R., & van Houten, J., 1992, Increasing Generalized Social Interactions in Psychotic and Mentally Retarded residents through pre-medicated therapy, Journal of Applied Behavior Analysis, Sum Vol 25 (2) 335-339
  • Ward, A.J., 1970, Early Infantile Autism: Diagnosis, etiology, and Treatment, Psychological Bulletin, 73 (5) 350-362

1 Response to "Terapi Gangguan Jiwa "

Rama Sejati said...

Artikel yang bagus !

Barangkali artikel "terapi gangguan jiwa" berikut juga berguna bagi rekan rekan lainnya > Terapi gangguan jiwa ?